Jumat, 10 Januari 2014

Pneumatologi (Doktrin Roh Kudus)

Baptisan Roh Kudus dan Karunia Berbahasa Roh

Oleh John Liem pada 31 Desember 2011 pukul 17:48
Benarkah baptisan Roh Kudus harus disertai dengan karunia berbahasa Roh? Bukankah Kitab Para Rasul menceritakan karunia berbahasa Roh yang menyertai Baptisan Roh Kudus? Bukankah murid2 Yesus berbahasa Roh di hari Pentakosta seperti yang tertulis di Kisah 2? Bukankah Kornelius berbahasa Roh sewaktu dia menerima baptisan Roh di Kisah 10? Bukankah orang2 Samaria dan murid2 Yohanes Pembaptis juga demikian di Kisah 8 dan Kisah 19? Bukankah hal ini membuktikan karunia berbahasa Roh adalah indikator yang menyertai baptisan Roh Kudus?

Untuk menjawab pertanyaan2 di atas, terlebih dahulu kita harus mengerti konteks yang dituliskan Lukas di Kisah Para Rasul? Kisah Para Rasul dimulai dengan janji Yesus yang akan memberikan baptisan Roh Kudus sesudah Dia terangkat ke surga. Kemudian Kisah Para Rasul dilanjutkan dengan turunNya Roh Kudus kepada murid Yesus, juga kotbah Petrus dan yang lainnya yang membawa pertobatan masal di Kisah pasal 2. Lalu disambung dengan terbentuknya komunitas2 kristen yang menjadi anggota gereja Kristus yang mula2 yaitu `gereja Yahudi’.

Selanjutnya di Kisah 10, 19, 8 terjadi pergeseran tema. Dalam hal ini Lukas menuliskan tentang siapa lagi yang menjadi anggota gereja Kristus. Di Kisah 10, 19, 8 Lukas menceritakan bahwa gereja Kristus BUKANLAH gereja yang diisi oleh kaum Yahudi saja. Gereja Kristus juga diisi oleh orang2 non-Yahudi. Kisah 10 menceritakan tentang Kornelius seorang non-Yahudi yang menjadi anggota gereja Kristus. Kisah 8 menulis tentang orang2 yang setengah Yahudi yaitu orang2 Samaria (orang2 Yahudi menggolongkan orang2 Samaria sebagai kaum buangan). Walaupun orang2 Samaria memiliki hukum Taurat, mereka tidak pernah menerima Yudaisme sebagai agama mereka. Mereka juga menolak otoritas dari kaum Yahudi. Lalu Kisah 19 yang menulis tentang murid2 Yohanes Pembaptis yang tidak pernah masuk ke dalam kelompok murid Yesus dan tidak mendapatkan pengajaran yang jelas tentang Yesus Kristus.

Sebenarnya yang mau disampaikan oleh Lukas di dalam peristiwa berbahasa Roh yang menyertai baptisan Roh Kudus di pasal2 di atas adalah sesungguhnya Allah tidak membedakan orang2 yang Dia selamatkan. Allah juga membentuk satu kesatuan gereja Kristus yang terdiri dari orang2 dari berbagai latar belakang. Dan hal ini tentunya bukan perkara yang mudah.

Di kisah Kornelius, Allah mengejutkan Petrus dan juga para murid2 Yesus lainnya tentang karunia berbahasa Roh yang menyertai Kornelius. Petrus mengatakan bila Allah tidak membeda2kan antara kaum Yahudi dan non-Yahudi, maka anggota2 gereja Yahudi pun juga tidak boleh melakukan diskriminasi. Inilah pelajaran yang diberikan Allah kepada gereja Yahudi.
Di kisah orang2 Samaria, diceritakan Filipus terlebih dahulu berkotbah kepada mereka. Lalu gereja Yahudi mengirimkan Petrus dan Yohanes untuk menumpangkan tangan kepada kaum Samaria itu untuk mendapatkan baptisan Roh Kudus. Hal ini mengajarkan, orang2 Samaria haruslah berkiblat kepada gereja Yahudi dalam hal spiritual. Pelajaran untuk gereja Yahudi adalah mereka jangan lagi menganggap kaum Samaria yang menjadi anggota gereja Kristus ini sebagai kaum buangan. Sebagaimana gereja Yahudi diberikan karunia berbahasa Roh, kaum Samaria pun juga mendapatkannya.
Di kisah murid2 Yoh Pembaptis di Efesus, gereja Yahudi mengoreksi baptisan yang dimiliki oleh para murid Yoh Pembaptis. Para murid Yohanes ini juga harus dibaptis di dalam nama Yesus Kristus. Karunia berbahasa Roh yang dimiliki oleh para murid Yoh Pembaptis adalah indikator yang menyatukan mereka ke dalam gereja Kristus.

Nah dengan penjelasan di atas, pertanyaan penting yang harus dijawab sekarang adalah apakah fenomena berbahasa Roh yang menjadi indikasi baptisan Roh itu masih terjadi dan harus terjadi sampai sekarang? Jawabannya jelas TIDAK. Tahukah anda Kisah Para Rasul juga mencatat orang yang tidak mendapat karunia berbahasa Roh sesudah orang itu percaya kepada Kristus. Siapakah dia? Dia adalah sida2 dari Etiophia (Kisah 8:38). Sida2 itu adalah kaum non-Yahudi sama seperti Kornelius. Lalu mengapa sida2 itu tidak mendapat karunia berbahasa Roh seperti Kornelius? Apakah karena sida2 ini tidak mendapatkan baptisan Roh Kudus seperti Kornelius? Nah, perhatikan baik2, di sinilah kuncinya! Sida2 itu juga mendapatkan baptisan Roh Kudus walaupun dia tidak mendapatkan karunia berbahasa Roh. Apakah buktinya dia mengalami baptisan Roh Kudus? Di ayat 8:39 itu kita temukan ayat yang menulis sida2 Etiophia itu pulang dengan suka cita. Inilah bukti dari baptisan Roh Kudus yang sudah dia alami!

Dalam hal ini saya setuju dengan pendangan Martyn Lloyd Jones yang menyatakan:
“Tetapi bahayanya adalah memikirkan baptisan Roh Kudus itu hanya dari sisi karunia saja dan bukannya untuk sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu tanda, yang pada akhirnya akan membuktikan apakah kita ini sudah menerima baptisan Roh Kudus atau belum....Anda akan menemukan di perjanjian baru di mana orang2 yang dihampiri oleh Roh Kudus, orang2 yang dituruni Roh Kudus, atau orang2 yang menerima Roh Kudus seperti kristen2 Galatia dan yang lain2nya, orang2 itu mengalami pembaharuan di dalam kerohanian mereka. Tuhan Yesus menjadi begitu nyata bagi mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka alami sebelumnya....hasilnya adalah mereka menjadi begitu mencintai Kristus dengan hati mereka yang diterangi oleh Roh Kudus."

Sejarah Nama Reformed

Teologi Reformed----- James Montgomery Boice

Oleh Sam SI pada 13 Juni 2012 pukul 18:14
Teologi Reformed mendapatkan namanya dari abad keenam belas Reformasi Protestan, dengan penekanan yang berbeda teologis, tetapi teologi kokoh berdasarkan Alkitab itu sendiri. Orang percaya dalam tradisi Reformasi menganggap sangat kontribusi tertentu orang seperti Martin Luther, John Knox, dan terutama John Calvin, tetapi mereka juga menemukan distinctives mereka yang kuat di raksasa iman sebelum mereka, seperti Anselmus dan Agustinus, dan akhirnya di surat-surat Paulus dan ajaran Yesus Kristus. Kristen Reformed berpegang pada doktrin karakteristik dari semua orang Kristen, termasuk Tritunggal, keilahian dan kemanusiaan sejati Yesus Kristus yang benar, perlunya Yesus pendamaian bagi dosa, gereja sebagai lembaga ilahi, inspirasi dari Alkitab, kebutuhan bahwa orang Kristen hidup moral, dan kebangkitan tubuh. Mereka memegang doktrin-doktrin lain yang sama dengan orang Kristen evangelis, seperti pembenaran oleh iman saja, kebutuhan untuk kelahiran baru, kembalinya pribadi dan nyata tentang Yesus Kristus, dan Amanat Agung. Apa, kemudian, adalah khas tentang teologi reformasi


1. Doktrin Alkitab.
Komitmen reformasi untuk Kitab Suci menekankan inspirasi Alkitab, otoritas, dan kecukupan. Karena Alkitab adalah Firman Tuhan dan memiliki otoritas Tuhan sendiri, orang direformasi menegaskan bahwa otoritas ini lebih tinggi dari semua pemerintah dan semua hirarki gereja. Keyakinan ini telah memberikan orang percaya reformasi keberanian untuk melawan tirani dan telah membuat teologi direformasi kekuatan revolusioner dalam masyarakat. Kecukupan Alkitab berarti bahwa itu tidak perlu ditambah dengan wahyu khusus baru atau sedang berlangsung. Alkitab adalah buku yang sama sekali cukup untuk apa yang kita percaya dan bagaimana kita harus hidup sebagai orang Kristen. Para Reformator, khususnya John Calvin, menekankan cara obyektif, Firman yang tertulis dan pelayanan, batin supranatural dari pekerjaan Roh Kudus bersama-sama , Roh Kudus menerangi Word untuk umat Allah. Firman tanpa penerangan Roh Kudus tetap menjadi buku tertutup. Pimpinan seharusnya Roh tanpa Firman menyebabkan kesalahan dan kelebihan. Para Reformator juga bersikeras atas hak orang percaya untuk mempelajari Alkitab sendiri. Meskipun tidak menyangkal nilai dari guru terlatih, mereka mengerti bahwa kejelasan Alkitab mengenai hal-hal penting untuk keselamatan membuat Alkitab milik setiap orang percaya. Dengan hak akses selalu datang tanggung jawab interpretasi yang cermat dan akurat



2. Kedaulatan Allah.
Bagi orang-orang reformasi paling artikel kepala dan yang paling khas dari kredo adalah kedaulatan Allah. Kedaulatan berarti kekuasaan, dan kedaulatan Allah berarti aturan Tuhan bahwa atas ciptaan-Nya dengan kekuasaan absolut dan otoritas. Dia menentukan apa yang akan terjadi, dan itu tidak terjadi.Allah tidak takut, frustrasi, atau dikalahkan oleh keadaan, oleh dosa, atau oleh pemberontakan makhluk-Nya.


3. The Doctrines of Grace.
Teologi Reformed menekankan doktrin anugerah, terbaik dikenal dengan singkatan TULIP, meskipun ini tidak sesuai dengan nama-nama terbaik untuk lima doktrin.

T singkatan dari kerusakan total. Ini tidak berarti bahwa semua orang adalah sebagai buruk karena mereka mungkin bisa. Artinya bukan bahwa semua manusia dipengaruhi oleh dosa dalam setiap bidang pemikiran dan melakukan sehingga tidak ada yang keluar dari siapapun selain dari rahmat regenerasi Allah bisa menyenangkan Tuhan. Sejauh hubungan kita kepada Allah yang bersangkutan, kita semua jadi rusak oleh dosa bahwa tidak ada yang benar dapat memahami Allah atau jalan Tuhan. Kami juga tidak mencari Tuhan, kecuali Dia pertama bekerja di dalam kita untuk memimpin kita untuk melakukannya U singkatan pemilihan tanpa syarat. Penekanan pada pemilu mengganggu banyak orang, tetapi masalah mereka merasa tidak benar-benar dengan pemilihan, melainkan dengan kebejatan. Jika orang-orang berdosa adalah sebagai berdaya dalam kebejatan mereka sebagai Alkitab mengatakan mereka adalah, tidak tahu dan tidak mau mencari Allah, maka satu-satunya cara mereka mungkin bisa diselamatkan adalah bagi Allah untuk mengambil inisiatif untuk mengubah dan menyelamatkan mereka. Inilah yang berarti pemilu. Hal ini Allah memilih untuk menyelamatkan mereka yang, selain pilihan berdaulat Nya dan tindakan berikutnya, pasti akan binasa. L singkatan penebusan terbatas. Nama ini berpotensi menyesatkan, karena tampaknya menunjukkan bahwa orang direformasi ingin entah bagaimana untuk membatasi nilai Kristus kematian. Hal ini tidak terjadi. Nilai kematian Yesus adalah tak terbatas. Pertanyaannya adalah bukan apa tujuan dari kematian Kristus, dan apa yang dilakukan di dalamnya. Apakah Kristus berniat untuk membuat keselamatan tidak lebih dari mungkin? Atau apakah Dia benar-benar menyelamatkan mereka yang Dia mati? Teologi Reformed menekankan bahwa Yesus benar-benar menebus dosa-dosa mereka Bapa telah memilih. Dia benar-benar propitiated murka Allah terhadap umat-Nya dengan mengambil penilaian mereka atas diriNya, sebenarnya membebaskan mereka, dan benar-benar mendamaikan orang-orang khusus untuk Allah. Sebuah nama yang lebih baik untuk "terbatas" penebusan akan "khusus" atau "khusus" penebusan. Saya singkatan rahmat tak tertahankan. Kiri ke diri kita sendiri kita menolak kasih karunia Allah. Tetapi ketika Tuhan bekerja dalam hati kita, regenerasi kita dan menciptakan kemauan baru di dalam, maka apa yang tidak diinginkan sebelum menjadi sangat diinginkan, dan kami lari ke Yesus sama seperti sebelumnya kita lari dari-Nya. Orang berdosa jatuh melakukan menolak kasih karunia Allah, tetapi kasih karunia-Nya regenerasi adalah mujarab. Ini mengatasi dosa dan menyelesaikan tujuan Allah. P singkatan dari ketekunan orang-orang kudus. Sebuah nama yang lebih baik mungkin "ketekunan Allah orang-orang kudus" tetapi kedua ide yang benar-benar terlibat. Allah bertekun dengan kita, menjaga kita dari kejatuhan, karena kita pasti akan lakukan jika Dia tidak bersama kami. Tetapi karena Ia bertekun kami juga bertahan. Bahkan, ketekunan adalah bukti akhir dari pemilu. Kami bertahan karena Allah melindungi kita dari penuh dan terakhir jatuh jauh dari-Nya.


  4. Mandat Budaya.
Teologi Reformed juga menekankan mandat budaya, atau kewajiban orang Kristen untuk hidup aktif dalam masyarakat dan bekerja untuk transformasi dunia dan budaya nya. Orang Reformed telah memiliki berbagai pandangan di daerah ini, tergantung pada sejauh mana mereka percaya seperti transformasi mungkin Tapi secara keseluruhan mereka setuju pada dua hal. Pertama kita dipanggil untuk menjadi di dunia dan tidak menarik diri dari itu. Ini menetapkan orang percaya reformasi selain dari monastisisme. Kedua, kita ingin memberi makan yang lapar, pakaian kepada yang telanjang, dan mengunjungi tawanan.Namun kebutuhan utama orang masih spiritual, dan pekerjaan sosial ada pengganti yang memadai untuk penginjilan. Bahkan, upaya untuk membantu orang hanya akan benar-benar efektif sebagai hati dan pikiran mereka diubah oleh Injil. Ini menetapkan orang percaya direformasi terpisah dari, kemanusiaan belaka. Telah keberatan dengan teologi reformed bahwa setiap orang yang percaya t sepanjang garis direformasi akan kehilangan semua motivasi untuk penginjilan. "Jika Tuhan akan melakukan pekerjaan itu, mengapa saya harus repot-repot?" Tapi itu tidak bekerja seperti itu. Hal ini karena Allah melakukan pekerjaan yang kita dapat berani untuk bergabung Nya di dalamnya, sebagaimana Dia memerintahkan kita untuk melakukannya. Kami melakukannya dengan sukacita, karena mengetahui bahwa upaya kami tidak akan pernah sia-sia.

Soteriologi (Doktrin Keselamatan)

Anugerah pendahuluan, adakah itu?

Oleh John Liem pada 16 Februari 2013 pukul 12:51
Doktrin keselamatan versi Arminian mengajarkan yang disebut sebagai “anugerah pendahuluan“. Maksudnya adalah semua manusia yang lahir dalam dosa dan mati rohani ini, tidak akan mampu untuk datang ke Kristus di dalam kondisi keberdosaannya. Nah, untuk ini Allah harus memberikan ”anugerah pendahuluan“ kepada semua manusia. Lewat “anugerah pendahuluan” inilah manusia bisa merespons kepada tawaran keselamatan Kristus, manusia bisa datang kepada Kristus. Lalu apakah yang menjadi problem dari ajaran ”anugerah pendahuluan“ ini?
Problem yang pertama: Jikalau “anugerah pendahuluan” ini sepenuhnya adalah sesuatu yang terjadi secara eksternal di luar diri manusia, maksudnya adalah jikalau “anugerah pendahuluan” ini hanyalah suatu tawaran dari Allah kepada manusia yang harus diresponi oleh manusia, maka apakah gunanya tawaran ini? Toh, manusia yang mati rohani tidak bisa merespons terhadap tawaran Allah! Apakah gunanya menawarkan "anugerah pendahuluan" kepada manusia yang tidak bisa merespons?

Problem yang kedua: Jikalau “anugerah pendahuluan” ini bukanlah suatu tawaran eksternal melainkan sesuatu yang Allah sudah lakukan di dalam hati semua manusia berdosa, maka yang menjadi pertanyaan adalah mengapakah “anugerah pendahuluan” tidak selalu efektif? Maksudnya, jikalau Allah itu sudah melakukan sesuatu di dalam diri semua manusia sehingga manusia bisa merespons kepada Kristus, lalu mengapa TIDAK SEMUA manusia merespons positif kepada Kristus? Mengapa hanya sebagian orang yang merespons positif dan sisanya negative kepada Kristus padahal semua orang sudah mendapatkan “anugerah pendahuluan” yang sama?
Jikalau para penganut "anugerah pendahuluan" ini menjawab karena cuma sebagian saja yang menggunakan freewillnya yang sudah dipengaruhi “anugerah pendahuluan” untuk menerima Kristus, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapakah hanya sebagian yang menggunakan freewill itu untuk menerima sedangkan yang lain menolak? Nah, sekarang anda bisa lihat sendiri dilema dari ajaran “anugerah pendahuluan”ini. Mengapa yang satu datang kepada Kristus dan yang lainnya tidak, padahal semuanya mendapat "anugerah pendahuluan" yang sama?
Mengapakah yang satu merespons positif dan yang lain negative walaupun semuanya mendapatkan “anugerah pendahuluan” yang sama? Apakah karena yang satu itu lebih benar hidupnya dari yang lain? Apakah karena yang satu itu lebih bermoral dari yang lain? Ataukah yang satu itu lebih pandai dari yang lain? Dalam hal ini, para penganut “anugerah pendahuluan” tidak bisa memberikan jawabannya. Mereka tidak akan berani menyatakan hidup manusia yang satu lebih benar atau lebih bermoral atau lebih pintar dari orang lain sehingga orang itu merespons positif. Mengapa? Karena hal ini berarti keselamatan itu bergantung pada kebenaran, nilai moral dan kepintaran yang ada dalam diri orang itu.
Problem ketiga: Manakah ayat alkitab yang mengajarkan tentang “anugerah pendahuluan” ini? Manakah dukungan terhadap “anugerah pendahuluan” ini? Jawabannya adalah TIDAK ADA sama sekali!
Lalu apakah ajaran yang benarnya? Keselamatan itu adalah 100% dari Allah. Keselamatan bisa terjadi hanya karena Allah sudah melahirbarukan diri kita. Hanya orang yang dilahirkan baru oleh Allah sendiri, orang itulah yang akan merespons positif kepada tawaran keselamatan Kristus. Orang yang tidak mengalami kelahiran baru, orang itu tidak akan datang kepada Kristus. Anugerah keselamatan hanya diberikan kepada orang2 yang memang Allah mau selamatkan. Itu saja.  Ref: RC. Sproul "Chosen by God"

Serba-Serbi Reformed

Mimpi Pangeran Frederick

Oleh John Liem pada 18 Februari 2013 pukul 12:18
Sebelum pastur Martin Luther menggantungkan 95 thesisnya di gereja Wittenberg, ada seorang pastur bernama Jan Hus (John Huss) yang dihukum mati oleh gereja Vatikan di bulan Juli tahun 1415 oleh karena ide2 dan tindakan2 revolusionernya. Dikisahkan di detik2 terakhir sebelum Hus dibakar terjadi percakapan berikut ini.

Pembakar: “Sekarang sudah tiba saatnya untuk memasak angsa ini (Hus dalam bahasa Bohemia berarti angsa)”

Hus: “Benar. Tetapi akan datang seekor elang 100 tahun lagi dan dia tidak akan bisa kau apa2kan”.

Siapakah si elang itu?

Kita fast forward 100 tahun, tepatnya 31 Oktober 1517. Seorang pangeran Jerman yang bernama Frederick berbincang2 dengan saudaranya yang bernama John tentang mimpi anehnya semalam.

Frederick: "Saudaraku, aku harus ceritakan kepadamu mimpiku semalam dan artinya yang aku kepingin tahu. Mimpi itu sungguh berkesan di pikiranku, aku tak mungkin melupakannya, jikalau aku hidup 1000 tahun lagi. Karena aku bermimpi 3 kali dan setiap kali mengenai hal yang berkaitan."
John: "Apakah mimpimu itu indah atau buruk? "
Frederick: "Aku tidak tahu; Hanya Tuhan yang tahu."
John: "Tidak usah terlalu khawatir, silakan disharingkan ke saya."
Frederick: "Kemarin saat aku berbaring di ranjang dengan kondisi yang letih jasmani maupun jiwa, aku tertidur tidak lama setelah aku mengucapkan doa dan tertidur kira2 2.5 jam; lalu aku terbangun dan tetap bangun sampai tengah malam dengan banyak pikiran di benakku. Salah satunya, aku memikirkan bagaimana aku harus merayakan perayaan hari orang2 kudus. Lalu aku berdoa bagi jiwa2 yang ada di purgatori, dan memohon Tuhan memimpinku, para bawahanku dan rakyatku dalam kebenaran. Lalu aku tertidur lagi dan bermimpi Tuhan yang Maha Besar mengirimkan aku seorang paderi, seorang anak sejati dari Rasul Paulus. Segala orang2 suci menemaninya atas perintah Tuhan untuk bersaksi kepadaku menyatakan dia tidak datang untuk mencari gara2, tetapi apa yang dia lakukan adalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka memintaku agar memberikan kebaikan dengan mengizinkan paderi ini menulis sesuatu di depan pintu gereja dari kastil Wittenberg. Aku pun memberikan izin itu lewat bawahanku. Kemudian paderi itu menuliskan sesuatu dengan huruf besar2 sampai2 aku bisa melihat tulisannya di Schweitnitz. Pena yang digunakan paderi itu begitu besar sehingga ujungnya mencapai sejauh Roma dan menusuk kuping2 seekor singa yang nongkrong di sana dan menyebabkan mahkota tiga lapis di kepala Paus bergoyang. Semua kardinal dan pangeran2, berlari dengan sigap untuk mencegah mahkota itu jatuh. Engkau dan aku, saudaraku pun mencoba untuk membantu dan saya pun mengulurkan lenganku. Dan pada saat ini, aku terbangun dengan lenganku membuka dan, sungguh ajaib, aku marah sekali pada paderi itu yang tidak memegang penanya baik2. Lalu aku mengingat2kan diriku bahwa itu cuma mimpi.
Aku kembali lagi setengah tertidur dan memejamkan mataku lagi. Mimpi itu kembali. Singa itu, sangat terganggu sekali oleh pena itu, dan dia mengaum sekuat tenaga sampai2 orang2 di seluruh kota Roma dan negara2 kerajaan suci berlarian untuk mencari tahu apa yang terjadi. Lalu Paus meminta mereka semua untuk melawan paderi ini dan khususnya meminta kepadaku karena paderi ini tinggal di negaraku. Aku terbangun lagi lalu mengucapkan doa Bapa Kami dan memohon Tuhan untuk menjaga Paus, lalu aku kembali tertidur.
Lalu aku bermimpi semua pangeran2 kerajaan dan kita di antaranya berangkat ke Roma dan mengerahkan tenaga kita untuk mematahkan pena itu. Tetapi semakin keras kita mencoba, semakin kuat pula pena itu, sepertinya itu terbuat dari besi. Kita akhirnya menyerah dan aku lalu bertanya pada paderi itu (di mimpiku itu aku terkadang ada di Roma terkadang di Wittenberg) dari manakah dia mendapatkan pena itu, dan mengapa pena itu begitu kuat. Jawab dia “Pena ini adalah milik si Angsa Tua dari Bohemia itu, seratus tahun lalu. Aku mendapatkan pena ini dari salah satu guruku. Mengenai kekuatan pena ini, itu disebabkan kekuatan yang ada di intinya dan aku sendiri pun takjub juga. Lalu aku tiba2 mendengar suara keras – banyak pena2 baru yang keluar dari pena panjang si paderi ini. Dan aku pun ternbangun ketiga kalinya: ternyata sudah subuh.
John: "Kanselor, apakah pendapatmu dalam hal ini? Apakah kita akan memiliki Yusuf atau Daniel, yang dicerahkan oleh Tuhan! "
Frederick: "Tuanku tentunya tahu ungkapan peribahasa, bahwa mimpi2 gadis2 muda, orang2 berpendidikan dan bangsawan besar umumnya punya makna tersimpan. Makna dari mimpiku ini, tetapinya, tidak akan bisa kita ketahui sampai saat tertentu – sampai hal2 yang berhubungan dengannya itu benar terjadi. Oleh karenanya, kita serahkan kepada Tuhan saja.
John: "Saya setuju, Kanselor; tidak ada gunanya kita memikirkan hal ini berlanjut2 untuk mencari tahu artinya. Tuhanlah yang akan menentukan segalanya berdasarkan kebesarannya."
Frederick: "Semoga Tuhan melakukan hal itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan mimpi ini. Aku sudah memikirkan apa maknanya tapi akan ku simpan dalam hati. Waktulah yang akan membuktikan apakah aku orang yang bisa melihat masa depan"
Dan anda tahu di pagi hari, di tanggal yang sama pula, Luther sudah memaku 95 tesisnya di kastil Wittenberg. Dan Frederick inilah yang kemudian menjadi pelindung politik dari Luther untuk menghadapi amarah Paus. Dan reformasi pun tidak terbendung lagi. Luar biasa bukan?
Referensi:
http://www.reformation.org/frederick.html

Soteriologi (Doktrin Keselamatan)

Teori penebusan Kristus

Oleh John Liem pada 25 Maret 2013 pukul 18:12
Mengapa Yesus Kristus harus mati di kayu salib? Beginilah penjelasan2 salah yang ada:
1. Teori ransom
Teori ini menyatakan manusia berdosa disandera oleh Iblis. Kematian Kristus di salib adalah untuk membayar tebusan kepada Iblis supaya manusia dilepaskan. Kesalahan dari teori ini: Iblis hanyalah suatu ciptaan yang tidak punya kuasa apa2 di hadapan Kristus. Untuk apa Yesus Kristus memberi muka kepada ciptaanNya sendiri?
2. Teori komersial
Teori ini menyatakan sewaktu manusia berdosa, sesungguhnya kehormatan Allah terluka. Dosa adalah sebuah penghinaan kepada Allah. Dan Allah tidak akan bisa memberikan pengampunan kepada manusia selama kehormatanNya tercoreng. Maka kematian Yesus adalah demi mengembalikan kehormatan Allah supaya manusia bisa diampuni. Problem dari teori ini: teori ini tidak menyebut apa2 tentang keadilan Allah. Padahal keadilan Allah lah yang menyebabkan Yesus Kristus tidak bisa tidak mati.
3. Teori pengaruh moral
Teori ini yang paling populer. Teori menyatakan Allah tidak memerlukan pengorbanan Yesus di kayu salib untuk mengampuni dosa manusia. Allah tentu saja bisa mengampuni tanpa lewat salib Kristus. Tetapinya pengorbanan Kristus di salib itu dilakukan untuk mempengaruhi kekerasan mati manusia. Jadi teori ini bertujuan untuk mempengaruhi hati (moral) manusia agar datang kepada Kristus. Problem:
Teori ini hanya melihat pengorbanan Kristus dari perspektif manusia tanpa menyinggung perspektif Allah yaitu keadilanNya.
4. Teori pecontohan
Yesus Kristus yang mati di salib adalah contoh seorang manusia yang mulia. Manusia yang taat taurat,
setia tugas bahkan sampai mati di salib. Inilah teladan Yesus Kristus yang harus ditiru semua manusia.
Problem: Teori ini tidak mengajarkan apa2 tentang keselamatan manusia di dalam Kristus. Kristus
tidak mati bagi siapa pun, Kristus hanya mati sebagai contoh yang harus ditiru manusia.
5. Teori mistikal
Teori ini menyatakan natur Kristus sebagai manusia adalah berdosa. Tetapi sebagai Allah, Kristus mampu menjaga dirinya dari keberdosaan kemanusiaannya itu. Nah sewaktu Kristus mati, Dia mematikan secara total natur dosa itu. Dia menyatukan kembali natur kemanusiaan yang bebas dosa dengan Tuhan Allah. Problem: Sekali lagi teori ini tidak menyinggung apa2 perihal keadilan Allah.
Sumber: Martyn Lloyd Jones "God The Father God The Son" 

Eksegese

Apakah kitab Roma dan Yakobus bertentangan perihal pembenaran oleh iman?

Oleh John Liem pada 16 Mei 2011 pukul 21:59
Tidak lama setelah Martin Luther mempromosikan konsep pembenaran (justifikasi) oleh iman saja (sola fide) dengan acuan kitab Paulus kepada jemaat Roma, kaum gereja katolik melakukan serangan balik dengan meminjam kitab Yakobus yang menulis manusia bukan dibenarkan oleh iman saja tetapi juga oleh perbuatan. Siapakah yang benar dalam hal ini? Apakah kedua kitab ini mengajarkan hal yang bertentangan? Kesulitan lainnya adalah baik Paulus maupun Yakobus sama2 mengutip kisah Abraham sebagai ilustrasi.

Roma 4:2 
Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.
4:3 
Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
4:4 
Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.
4:5 
Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
4:6 
Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:
4:7 
"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;
4:8 
berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya."
4:9 
Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.
4:10 
Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.
4:11 
Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,

Yakobus 2:20
Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
2:21 
Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 
Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 
Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."
2:24 
Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Benarkah kitab Roma mengajarkan hal yang bertentangan  dengan kitab Yakobus? TIDAK! Sesungguhnya kedua kitab itu tengah menjelaskan konsep pembenaran (justifikasi) oleh iman dengan perspektif yang berbeda. Kedua kitab ini saling melengkapi bukannya bertentangan.
Sewaktu Paulus menulis ayat Roma ini, dia sedang membahas bagaimanakah caranya manusia bisa dibenarkan oleh Tuhan. Paulus lalu menggunakan kisah Abraham yang beriman kepada Tuhan sebagai ilustrasi. Konteksnya adalah saat itu Abraham dipanggil untuk keluar dari tanah leluhurnya di Mesopotamia karena Allah akan menjanjikan keturunannya sebagai bangsa yang besar. Tuhan berjanji untuk memberikan keturunan berjumlah seperti bintang di langit, pasir di pantai. Lalu apakah yang bisa dilakukan oleh Abraham? Paulus mengingatkan yang bisa dilakukan Abraham hanyalah BERIMAN saja atas janji Tuhan itu. Dan modal Abraham yang berupa iman saja dipakai Paulus untuk menjelaskan konsep justifikasi (pembenaran) oleh iman saja.
Sedangkan Yakobus sewaktu menulis ayatnya, dia tengah membahas problem iman yang seperti apakah yang menyelamatkan itu? Semua orang kristen bisa saja mengklaim dia punya iman, tetapi apakah klaim itu menyelamatkan? Apakah indikator dari sebuah iman yang menyelamatkan? Dengan kata lain iman seperti apakah yang menyelelamatkan? Maka Yakobus pun memakai ilustrasi Abraham yang mempersembahkan anaknya Ishak. Yakobus menjelaskan bahwa iman yang dimiliki oleh Abraham adalah iman yang hidup, iman yang sejati. Buktinya Abraham membuktikan imannya dengan perbuatannya yang bersedia mengorbankan anaknya. Iman seperti inilah yang menyelamatkan yaitu iman yang disertai perbuatan.
John Calvin menulis seperti ini "Justification is by faith alone but faith never be alone". Dengan kata lain, di saat kamu beriman kepada Kristus, saat itulah pembenaran dari Tuhan akan dia berikan. Masalahnya adalah dari mana kau tahu imanmu itu iman yang benar2? Jikalau imanmu disertai perbuatan, itulah iman yang benar2 mendapatkan pembenaran dari Tuhan.

Soteriologi (Doktrin Keselamatan)

Predestinasi: kompilasi tulisan

Oleh John Liem pada 25 Mei 2013 pukul 20:19
Kita tahu Agustinus mengajarkan konsep pemilihan Allah atas manusia2 berdosa untuk diselamatkan. Pemilihan ini menurut Agustinus tidak berdasarkan kepada perbuatan baik manusia, juga tidak berdasarkan pada iman manusia itu di masa depan. Menurut Agustinus, pemilihan ini semata2 oleh karena anugerah Allah.
Allah yang memberikan anugerah keselamatanNya kepada seorang manusia akan menyebabkan manusia ini bisa beriman. Jadi di sini
iman adalah produk dari anugerah yang diberikan Allah untuk menyelamatkan manusia.
Nah yang jadi pertanyaan sekarang bagaimanakah manusia yang tidak selamat. Jikalau Allah memilih manusia berdasarkan anugerahNya untuk diselamatkan, apakah di sisi lain Allah juga memilih manusia untuk binasa? Ajaran predestinasi dobel adalah untuk menjawab pertanyaan sukar ini. Dan jawabannya adalah TENTU SAJA! Konsep predestinasi dobel itu adalah konsekuensi dari doktrin predestinasi
yang diajarkan Agustinus. Mari saya ilustrasikan doktrin predestinasi dobel ini. Anda tentu tahu di setiap tim sepak bola akan ada 11 pemain inti yang akan turun ke lapangan. Apakah anda tahu total jumlah pemain dari sebuah tim? Kurang lebih sekitar 30, mereka ini mencakup pemain2 cadangan yang siap mengganti pemain inti ini setiap saat . Tentunya anda tahu, sang manager lah yang akan menentukan siapa2 yang akan turun ke lapangan hari itu. Ya, sang managerlah yang akan memilih 11 orang yang masuk ke lapangan hari itu. Nah yang jadi pertanyaan bagaimanakah dengan yang sisa 19 orang itu? Sudah tentu mereka tidak dipilih untuk main hari itu. Hal ini juga berarti sang manager sudah memilih 19 orang untuk duduk di kursi hari itu!
Begitu jugalah dengan konsep predestinasi dobel ini. Bila hanya sebagian manusia yang dipilih Allah untuk Dia selamatkan, maka konsekuensinya adalah juga ada sebagian manusia yang dipilih Allah untuk TIDAK Dia selamatkan. Sebagian manusia ini dipilih Allah untuk mendapatkan kebinasaan! Lalu apakah hal ini menjadikan Allah sebagai sosok monster yang kejam? Jelas TIDAK!
Mayoritas calvinis memegang ajaran predestinasi dobel yang postitif-negatif. Apakah ajaran positif-negatif ini? Pertama2 harus kita
sadari dulu manusia yang dilahirkan dalam dosa ini melakukan dosa atas kerelaan mereka sendiri. Tidak ada siapa pun yang memaksa mereka.Allah tidak membuat mereka melakukan dosa. Manusia bahkan menikmati tindakan dosa mereka. Nah ajaran predestinasi dobel positif-negatif ini adalah sebagai berikut:
1. Secara POSITIF, Allah mengintervensi ke dalam hidup sebagian manusia berdosa ini. Allah yang sudah memilih manusia berdosa ini untuk diselamatkan maka Allah akan mengubah hati mereka, Allah
akan memberikan iman kepada mereka dan Allah akan menuntun mereka untuk mendapatkan keselamatan itu.
2. Sebaliknya, Allah tidak perlu untuk melakukan apa2 di dalam diri sebagian manusia berdosa yang tidak Dia selamatkan.
Yang dilakukan Allah HANYALAH membiarkan manusia ini dalam keberdosaannya dengan tidak mengintervensi ke dalam hidupnya. Jikalau manusia itu mendapatkan kebinasaan pada akhirnya, itu bukan disebabkan karena Allah bekerja di dalam hidup manusia ini untuk membuat dia melakukan dosa. Yang dilakukan Allah hanyalah bersikap pasif saja kepoada manusia ini. Inilah yang dimaksud dengan makna NEGATIF dari predestinasi dobel.
Saya tutup dengan kutipan dari Agustinus yang dia tulis di buku The Enchiridion.
These are the great works of the Lord, sought out according to all His pleasure, and so wisely sought out, that when the intelligent creation, both Angelic and human, sinned, doing not His will but their own, He used the very will of the creature which was working in opposition to the Creator's will as an instrument for carrying out His will, the supremely Good thus turning to good account even what is evil,
to the condemnation of those whom in His justice He has predestined to punishment, and for the salvation of those whom in His mercy He has predestined to grace
Terjemahan: Hal ini adalah pekerjaan2 besar Tuhan, sesuai dengan kerelaan kehendakNya yang dikerjakan dengan penuh hikmatNya, bahwa mahluk ciptaan2 yang berintelek, yaitu malaikat dan manusia, saat mereka berdosa, mereka tidak melakukan kehendak Tuhan melainkan kehendak mereka sendiri. Tuhan memanfaatkan
kehendak dari mahluk itu sendiri yang menentang kehendak Sang Pencipta sebagai instrumen untuk melaksanakan kehendakNya. Oleh karenanya Tuhan yang maha baik memakai kejahatan untuk kebaikan,
untuk mengkondemnasi mereka2 yang lewat keadilanNya sudah Dia predestinasikan untuk binasa dan untuk menyelamatkan mereka2 lewat kemurahanNya sudah Dia predestinasikan untuk mendapatkan anugerah.
Inilah konsep predestinasi dobel!
---------
Buat yang mengikuti topik ini, sekarang saya masuk ke babak yang baru untik menjelaskan tentang free will. Anda sudah saya tunjukan tentang tulisan Agustinus mengenai doktrin pemilihan Allah yang berdasarkan anugerahNya semata2. Allah tidak mempertimbangkan perbuatan baik manusia, Dia juga tidak mempertimbangkan iman manusia untuk menjadi basis dari pemilihanNya. Selain itu sudah saya tunjukan Agustinus mengajarkan konsep dobel predestinasi, di mana hanya sebagian manusia yang dipilih Allah untuk selamat dan sisanya dibiarkan Allah untuk binasa. Nah, sekarang saya akan menjelaskan pandangan Agustinus tentang free will. Di dalam tulisannya, Agustinus menyatakan keberadaan free will. Agustinus tidak menolak keberadaan free will. Menurut Agustinus, semua manusia mempunyai free will! Nah yang jadi pertanyaan, apakah dengan mempercayai free will maka Agustinus mengoreksi konsep ajaran dobel predestinasi nya? JELAS TIDAK. Hanya orang yang tidak mengerti pandangan Agustinus tentang free will yang menyatakan Agustinus meralat doktrin dobel predestinasi. Agustinus TIDAK pernah meralat doktrin predestinasi yang dia ajarkan dengan ajaran free will. Nah, sekarang apa itu free will bagi Agustinus? Sayangnya Agustinus tidak memberi penjelasan mendetil tentang free will. Penjelasan tentang free will yang paling masuk akal baru muncul di abad 17 dan ini dilakukan oleh seorang teolog terbesar yang pernah lahir di Amerika yaitu Jonathan Edwards (Ref: RC Sproul di buku eksposisi kitab Roma).
Apakah free will (atau kehendak bebas) itu? Perhatikan contoh berikut: 1. Misalnya anda nonton di bioskop lalu di penjualan tiket, si petugas karcis menanyakan anda mau duduk di mana. Maka anda pun memakai free will anda untuk memilih kursi yang anda mau duduki.
2. Misalnya anda masuk ke restoran, lalu si pelayan menyodorkan anda menu makanan. Maka anda pun memesan makanan anda dengan menggunakan free will anda.
3. MIsalnya di hari minggu ini, hujan turun deras. Lalu anda yang merasa kurang enak badan, anda punya 2 pilihan: tetap pergi ke gereja atau diam di rumah. Maka anda pun akan memakai free will anda untuk menentukan bagaimana anda mengisi waktu anda hari ini.
Nah, dari ketiga contoh di atas, apa sebenarnya yang disebut sebagai free will itu? Di sinilah Jonathan Edwards memberikan definisi free will yang paling logis yang tidak pernah dijelaskan orang2 sebelumnya. Jonathan Edwards mengatakan free will is the mind choosing. Kehendak bebas itu adalah pemikiran kita yang melakukan tindak pemilihan atas opsi2 yang ada di hadapan kita. Di ketiga contoh di atas itu, pemikiran andalah yang akan melakukan tindak pemilihan untuk duduk di kursi yang mana, untuk makan apa dan apakah harus ke gereja hari ini. Anda sebagai seorang actor yang bebas sudah menggunakan pemikiran anda untuk menentukan pilihan anda terhadap opsi2 yang sedang anda hadapi itu. Nah yang menjadi pertanyaan penting apakah free will anda itu benar2 free? Apakah kehendak bebas anda benar2 bebas? Inilah jawaban yang MAHA penting. Free will anda TIDAKlah bebas.
Free will (kehendak bebas) manusia tidak pernah benar2 bebas. Di tiga contoh di atas:
1. Tentu saja pengalaman anda nonton bioskop membuat anda menolak duduk di kursi depan. Lalu juga pengalaman2 anda akan membuat anda memilih duduk di kursi belakang yang dekat dengan pintu keluar, dsb dsb. Dengan kata lain free will anda itu sudah dibelenggu oleh pengalaman anda nonton bioskop sebelumnya.
2. Selera anda dan tentunya kondisi kantong anda akan menentukan pilihan anda atas makanan yang disodorkan si pelayan. Walaupun anda kepingin makan enak, tentunya realita akan menentukan pilihan anda. Apa yang menjadi free will anda sudah dibelenggu oleh 2 hal itu.
3. Ketaatan rohani anda dan keinginan anda untuk sembuh akan menentukan apakah hari ini anda ke gereja. Sekali lagi anda lihat free will anda tidaklah benar2 free.
Lalu apakah hubungannya dengan keselamatan manusia? Apakah free will manusia sewaktu diberikan opsi untuk mengikut Yesus atau menolak Yesus adalah free will yang bebas? Nah dengan argumen yang sama pula free will manusia untuk menerima Yesus atau menolak Yesus bukanlah free will yang bebas melainkan free will yang terbelenggu. Apakah yang sudah membelenggu free will manusia untuk menerima atau menolak Yesus? Nanti saya sambung.
-------
Apakah yang membelenggu free will kita sewaktu kita diberikan pilihan untuk menerima dan mengikut Yesus atau tidak menerima Yesus? Untuk menjawab hal ini, terlebih dahulu kita harus mengerti apa yang membentuk kemanusiaan kita. Kemanusiaan kita mempunyai 2 unsur yaitu unsur materi dan non materi. Yang berupa materi adalah daging, darah, tulang, otot, otak dan organ2 tubuh kita. Lalu apakah yang non materi itu? Martyn Lloyd Jones dalam bukunya mengatakan 5 hal berikut ini yang membentuk unsur non materi kita yaitu pemikiran, ingatan, rasa suka/selera/perasaan, keinginan dan nurani. Hal2 inilah yang menjadi bagian dari diri kita. Tapi tahukah anda, ada sesuatu di dalam diri kita yang mengontrol ke lima hal di atas. Sesuatu itu disebut sebagai disposition of the soul (disposisi jiwa). Apakah disposisi jiwa itu? Untuk menjelaskan hal ini, ilustrasi berikut sangat membantu.
Apakah yang membedakan seseorang itu kita sebut sebagai orang baik2 dan yang satu lagi kita sebut orang jahat. Apakah perbuatan mereka? Ya tentu saja. Tapi tahukah anda, disposisi jiwa merekalah yang menyebabkan kita bisa menyebut satu orang sebagai orang baik dan satu lagi orang jahat. Perhatikan yang berikut ini:
1. Seseorang yang memikirkan hal2 yang jahat kepada sesamanya, memikirkan hal2 yang rusak, apakah kita sebut sebagai orang baik atau orang jahat?
2. Seseorang yang selalu mengingat2 hal2 yang buruk yang pernah dilakukan orang lain kepadanya tanpa pernah mengingat kebaikan yang dia pernah terima, apakah dia disebut orang baik atau orang jahat?
3. Begitu pula orang yang berselera kepada hal2 yang tidak patut dilakukan, yang berkeinginan hal2 yang tidak baik dan tidak memiliki kepekaan nurani lagi, apakah mereka disebut sebagai orang baik atau orang jahat?
Nah sewaktu Tuhan melihat disposisi jiwa manusia, apakah manusia itu orang yang baik atau orang jahat di mataNya? Saya rasa anda tahu jawabannya. Kita semua adalah orang jahat di mata Tuhan. Disposisi jiwa kita ini sudah tercemar oleh dosa karena kita lahir di dalam dosa. Dosa ini sudah mencemari disposisi jiwa kita sehingga kita TIDAK AKAN PERNAH menginginkan Tuhan di dalam hidup kita. Ingat, hal seperti itulah yang dilakukan Adam dan Hawa pada saat mereka jatuh ke dalam dosa. Bukan saja keinginan jita sudah tercemar, pemikiran kita pun juga menolak Tuhan (itulah yang dilakukan oleh orang2 atheis). Tentu saja tercemarnya disposisi jiwa kita, akan membuat free will kita TIDAK MENGINGINKAN Yesus. Inilah kematian rohani yang dimiliki oleh semua manusia berdosa. Kita tidak akan pernah memilih Yesus karena kita tidak menginginkan Yesus di dalam hidup kita. Inilah efek dari dosa yang ada di dalam diri kita!
Lalu mengapa ada manusia yang menjadi Kristen? Mengapa ada manusia yang menginginkan Yesus akhirnya? Hal itu jelas bukan disebabkan karena free will dari manusia itu yang sudah tercemar dosa. Manusia bisa menginginkan Yesus karena anugerah Allah sudah tiba di dalam dirinya. Allah sudah merubah disposisi jiwa manusia ini. Dengan kata lain Allah sudah membangkitkan kerohanian manusia ini dari kematian. Allah sudah menghidupkan dia secara rohani dengan merubah disposisi jiwanya. Inilah yang disebut sebagai kelahiran baru. Inilah kelahiran rohani yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri. Sama seperti kelahiran jasmani kita, di mana kita tidak bisa melakukan apa2 untuk membuat kita lahir secara jasmani, hanya Allah sendirilah yang bisa melahir barukan kita secara rohani lewat anugerahNya.
Lalu apakah anugerah Allah ini diberikan kepada semua manusia? Apakah Allah merubah disposisi jiwa dari semua manusia? Apakah semua manusia menerima dan mengikut Yesus? Saya rasa anda sudah tahu jawabannya. Hanya sebagian manusia saja yang pada akhirnya mengikut Yesus. Hal ini karena Allah tidak memberikan anugerahNya kepada semua manusia. Dia hanya memberikan anugerah itu kepada orang2 yang Dia memang mau berikan. Inilah doktrin predestinasi yang diakjarkan Agustinus. Inilah yang diajarkan Agustinus sewaktu dia berdebat dengan Pelagius. Pelagius tidak mempercayai keberadaan dosa asal dalam diri manusia. Sedang Agustinus menjelaskan keberadaan dosa asal yang akhirnya akan mencemari semua unsur kemanusiaan kita sampai pada free will kita. Itulah sebabnya, Agustinus mengajarkan bukan iman maupun perbuatan baik manusia yang menjadi basis dari pemilihan Allah. Karena iman dan perbuatan baik manusia, hanya bisa dimungkinkan sesudah manusia itu mendapatkan anugerah Allah. Dan anugerah ini tidak diturunkan kepada semua orang.
---------
Mayoritas orang kristen akan menolak konsep universalis yang menyatakan semua manusia (terlepas dari iman dan kepercayaanya) diselamatkan oleh Yesus Kristus. Mayoritas orang kristen menganut konsep “penebusan Kristus adalah mencakup semua manusia akan tetapi hanya efektif untuk sebagian manusia.” Lalu apakah yang menyebabkan penebusan Kristus itu hanya efektif untuk sebagian manusia saja? Mereka akan menjawab hal itu disebabkan oleh free will manusia itu yang menerima/menolak penebusan Kristus. Anda tahu di mana letak permasalahan dari konsep penebusan seperti ini?
Letak masalahnya ada pada tujuan dari penebusan Kristus itu sendiri. Sewaktu Yesus berkorban 2000 tahun yang lalu, apakah Yesus bertujuan untuk menyelamatkan manusia ataukah tidak? Apakah Allah Bapa memiliki rencana untuk menyelamatkan manusia dan Yesus berkorban untuk menggenapi rencana itu? Jikalau anda mengatakan “penebusan Kristus adalah mencakup semua manusia” maka seharusnya semua manusia harus selamat! Memangnya siapa yang bisa menggagalkan rencana Allah jikalau Allah memang bermaksud untuk menyelamatkan semua manusia? Nah sewaktu anda mengatakan “penebusan Kristus adalah mencakup semua manusia akan tetapi hanya efektif untuk sebagian manusia.”, secara tidak langsung anda sudah mengatakan free will manusia itu telah membatasi bahkan menggagalkan rencana Allah! Karena free will manusia itulah, sehingga rencana penebusan Allah hanya efektif untuk sebagian manusia. Dan tentu saja orang Kristen penganut konsep ini akan menolak tuduhan itu. Mereka akan menolak tuduhan bahwa free will manusia telah menggagalkan rencana Allah untuk menebus semua manusia. Lalu bagaimana mereka berkelit dari dilema ini? Mereka akan mengatakan sewaktu Yesus mati di kayu salib 2000 tahun yang lalu, sebenarnya Yesus tidak menebus siapa2. Tidak ada satu manusia pun yang ditebus Yesus di kayu salib. Yang dilakukan Yesus hanyalah membuka jalan agar manusia bisa masuk ke dalam. Manusia akan ditebus apabila manusia itu memakai free willnya untuk menerima penebusan Kristus itu. Lalu apakah penjelasan seperti ini bisa diterima? TIDAK!
Alkitab sudah menunjukan dengan jelas Yesus benar2 menebus manusia di kayu salib. Yesus bukan sekedar membuka jalan supaya manusia bisa ditebus. Yesus benar2 menebus manusia lewat kematianNya. Di Yoh 10:15 Yesus sudah berkata “Aku menyerahkan nyawaku bagi domba2ku”. Paulus menulis di Roma 5:8, “Sewaktu kita masih berdosa, Kristus sudah mati bagi kita”. Alkitab SUDAH berbicara dengan gamblang bahwa Yesus mati untuk menebus manusia2 bukan sekedar membuka jalan bagi mereka. Nah jikalau anda menerima bahwa Yesus benar2 mati bagi manusia dan anda juga menerima bahwa tidak semua manusia itu selamat, maka tidak ada cara lain lagi: anda harus menyakini bahwa Yesus datang untuk menebus manusia2 yang memang Dia selamatkan. Yesus tidak menebus golongan kambing, Dia hanya menebus golongan domba yaitu orang2 yang diselamatkan. Inilah yang disebut dengan penebusan yang terbatas (limited atonement atau definite atonment). Maksudnya penebusan Yesus hanya terbatas pada orang2 yang dia selamatkan (terbatas dalam hal quantitas) tetapi penebusan itu secara PASTI menyelamatkan mereka.
-------
Salah satu keberatan yang sering diajukan terhadap konsep dobel predestinasi adalah pertanyaan seputar kasih Tuhan. Bukankah Tuhan mengasihi semua manusia? Jikalau Tuhan mengasihi semua manusia maka bagaimana mungkin Dia mempredestinasikan mayoritas manusia untuk dibiarkan binasa? Lagipula bagaimana dengan ayat Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Bhs Inggrisnya (NKJV) For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him should
not perish but have everlasting life. Bukankah jelas ayat itu menulis:
1. Allah mengasihi semua manusia berdosa sehingga Dia mengirimkan Yesus untuk menebus. Jikalau Allah benar2 mengasihi semua manusia berdosa, bagaimana mungkin Dia mempredestinasikan manusia berdosa untuk binasa? Bagaimana mungkin Dia mempredestinasikan hanya sebagian manusia saja untuk selamat?
2. Supaya setiap orang yang percaya jangan binasa. Maksudnya jikalau semua orang yang percaya Yesus bisa selamat, bukankah ini berarti bahwa semua manusia punya kemampuan untuk percaya dengan free will sendiri? Bukankah doktrin dobel predestinasi mengajarkan free will manusia tidak bisa membawa dia untuk percaya Yesus? Bukankah di ayat ini ditulis jelas semua manusia mampu ber free will untuk percaya Yesus ini?
Sebelum menjawab 2 pertanyaan ini, terlebih dahulu saya harus jelaskan terjemahan Yoh 3:16 di atas baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesianya tidak tepat. Di bahasa aslinya, kalimat yang dipakai sangat jauh berbeda dengan yang diterjemahkan itu. Tapi untuk sementara iniu, baiklah kita anggap terjemahan Indonesia (maupun Inggrisnya) adalah tepat. Mari kita bedah ayat ini.
Pertama2 mari kita teliti kalimat "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal". Benarkah ayat ini menyatakan Allah mengasihi semua manusia berdosa (yaitu kata dunia di sana)? Memang benar bahwa Allah mengasihi semua manusia, Allah mencintai semua manusia berdosa sehingga Dia mengirimkan Yesus. Tetapi tahukah anda kata "kasih" di sana punya berbagai pengertian. Ilustrasinya, apakah anda mengasihi anak tetangga? Tentu saja anda menjawab mengasih anak tetangga, tetapi apakah kasih anda kepada anak tetangga sama levelnya dengan kasih anda kepada anak sendiri? Jelas tidak bukan? Nah begitu juga dengan
konsep kasih Allah ini. Kasih Allah mempunyai 3 kategori (Ref: RC Sproul, Eksposisi Roma) yang bisa dibedakan sebagai berikut:
1. Allah mengasihi manusia berdosa dalam arti Allah tidak memiliki motivasi yang buruk terhadap manusia berdosa. Allah tidak berkeinginan yang buruk2 bagi manusia berdosa. Faktanya bahwa manusia berdosa melakukan dosanya setiap hari dan tetap hidup adalah bukti dari kasih Allah di level ini.
2. Allah mengasihi manusia berdosa dalam arti Allah melakukan tindakan baikNya untuk manusia berdosa. Contohnya, Allah
menurunkan hujan baik kepada orang yang baik maupun orang jahat. Allah memberikan talenta (kepandaian, kekayaan, dsb) bukan
saja kepada orang kristen, bahkan lebih banyak orang yang bukan kristen yang mendapat talenta pemberian Allah.
3. Allah mengasihi manusia berdosa dalam arti kasih ilahiNya. Contohnya Allah mengasihi anakNya yang tunggal dengan kasih yang tak terbatas, kasih ilahi, kasih yang sempurna dan tanpa syarat. Nah kasih Allah kepada Yesus dan juga umat pilihanNya berada pada kategori nomor ini.
Kalimat Yohanes 3:16 itu menunjukan kasih Allah kepada manusia berdosa dalam kategori 1 dan 2. Allah tidak mengharapkan hal yang buruk2 untuk terjadi pada manusia bedosa, Allah tidak mengharapkan manusia binasa oleh karena itulah Allah melakukan tindakanNya dengan mengutus Yesus. Allah berharapan manusia untuk datang kepada Yesus. Terus kalimat selanjutnya dari Yoh 3:16
"supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Nah di sinilah letak masalah utamanya! Apakah kalimat "supaya yang percaya" di sana berarti punya kemampuan untuk percaya? Allah memang menginginkan manusia untuk percaya Yesus, tetapi apakah ini berarti manusia punya kemampuan untuk percaya kepada Yesus?
Perhatikan baik2 kalimat "supaya yang percaya jangan binasa" ini TIDAK MENUNJUKAN manusia punya kemampuan untuk percaya. Kalimat ini hanya menunjukan, pertama Allah sudah mengasihi manusia berdosa. Kedua, manusia berdosa yang percaya Yesus tidak akan binasa. Tetapi tidak ada apa pun di kalimat ini yang menunjukan manusia punya kemampuan untuk percaya. Berikut ini adalah ilustrasinya: anda tahu toko berlian bukan? Anda tahu si pedagang berlian yang menwarkan berlian di tokonya menginginkan pembeli untuk membeli dagangannya bukan? Anda tahu semua orang yang mampu membayar harga berlian, akan mendapatkan berlian yang dijual si pedagang bukan? Nah, pertanyaannya apakah semua orang mampu membayar harga berlian? Jelas tidak bukan? Ini berlian bukan kacang goreng! Nah, walaupun tawaran berlian itu ditawarkan kepada semua orang, tetapi tidak berarti semua orang punya kemampuan untuk membeli berlian! Hal itulah yang juga didapati di ayat Yoh 3:16 ini.
Allah mengharapkan yang terbaik bagi manusia berdosa dengan mengirimkan Yesus Kristus, Allah menginginkan manusia berdosa
selamat dengan mempercayai Yesus Kristus tetapi hal ini tidak berarti semua manusia bisa percaya dan menerima Yesus Kristus. Doktrin predestinasi yang diajar Agustinus mengajarkan hanya anugerah Tuhan yang bisa menyebabkan manusia berdosa bisa percaya Yesus. Orang yang tidak mendapatkan anugerah itu, tidak akan pernah datang karena mereka tidak bisa dan yang penting mereka TIDAK MAU datang kepada Kristus!
Sebelumnya sudah saya tuliskan terjemahan bhs Indonesia dan Inggris atas ayat ini kurang tepat. Sekarang saya tuliskan makna kata per kata terjemahan yang langsung diambil dari bhs aslinya (yaitu bhs Grika). Ini saya kutip dari sebuah blog.
Bhs asli:
Ou[twj ga.r hvga,phsen o` qeo.j to.n ko,smon( w[ste to.n ui`o.n auvtou/ to.n monogenh/ e; dwken( i[na pa/j o` pisteu,wn eivj auvto.n mh. avpo,lhtai( avllV e;ch| zwh.n aivw,nionĂ…
Terjemahan bhs Inggris kata per kata:
"In this way, loved God the world, that for this reason - this Son,
the only unique one, He gave in order that every one of those who are continuously believing in Him, will NOT EVER perish, but will keep on having life without end."
Bhs Indonesianya: "Dengan cara ini, oleh karena cinta Allah kepada dunia, sehingga oleh karenanya - anakNya, yang satu2Nya itu, Dia berikan supaya semuanya yang tetap percaya kepadaNya, tidak akan pernah binasa, melainkan memiliki hidup sampai selamanya."
Perhatikan baik2: Tidak ada itu kalimat "supaya siapa yang percaya" di bhs aslinya, yang ada adalah "supaya semuanya yang tetap percaya". Jelas bukan, kalimat ini bahwa tidak mengajarkan semua orang bisa percaya? Karena yang tertulis adalah "semua orang yang tetap percaya" bukan "siapa saja yang percaya".
------
Lalu bagaimana dengan ayat yang menyatakan Tuhan menghendaki semua manusia untuk selamat? 1 Timotius 2:3-4 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
Jikalau Tuhan menghendaki semua manusia untuk selamat, bukankah predestinasi Tuhan terhadap siapa2 yang selamat dan yang tidak adalah suatu kontradiksi?
Nah Agustinus membagi 2 kategori kehendak Tuhan yaitu kehendak yang aktif dan kehendak yang pasif. Kehendak Tuhan yang aktif adalah kehendak Tuhan yang benar2 Dia laksanakan sehingga
kehendakNya pasti terjadi. Contohnya, sewaktu Tuhan berkehendak menciptakan alam semesta, Dia berkata "Jadilah terang". Dan terang pun tidak bisa tidak tejadi. Terang harus terjadi karena itu
adalah kehendak Tuhan. Inilah yang disebut kehendak Tuhan yang aktif.
Kehendak Tuhan yang pasif, adalah kehendak Tuhan sebatas kehendak saja dan ini tidak Dia "paksakan" untuk terwujud. Contohnya, Tuhan berkata "Semua buah pohon di taman ini boleh kau makan, tetapi hanya satu yang tidak boleh yaitu buah pengetahuan yang baik dan jahat". Inilah kehendak Tuhan yang pasif. Tuhan berkehendak agar manusia taat pada perintah ini tapi Dia tidak memaksa agar manusia benar taat. Begitu pula dengan pemberian 10 hukum Taurat, Tuhan berkehendak agar semua manusia mentaati semua hukum Taurat, tetapi Tuhan tidak memaksa dengan membuat semua manusia menjadi taat Taurat. Anda tentu tahu sendiri, tidak ada satu manusia pun yang taat Taurat.
Nah ayat 1 Timotius di atas menunjuk pada kehendak Tuhan yang pasif. Tuhan menghendaki agar semua manusia diselamatkan,
Tuhan menghendaki agar semua manusia datang ke Kristus, tetapi Tuhan tidak membuat (atau memaksa) manusia untuk datang kepada Kristus. Tuhan tidak mencabut kebebasan manusia walaupun dia jatuh ke dalam dosa, Tuhan berkehendak manusia untuk datang kepadaNya untuk mendapat keselamatan. Hanya saja, manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang tidak menginginkan Tuhan, mereka bahkan berusaha untuk lari dari Tuhan.
Tetapi, manusia yang tidak menginginkan Tuhan, itu kan disebabkan oleh karena dia lahir di dalam dosa. Masalahnya saya tidak bisa menolak untuk tidak lahir dalam dosa. Jikalau saya menolak Tuhan karena dosa saya, yang saya tidak punya kuasa untuk mencegahnya, bukankah ini tidak adil buat saya jika Tuhan tidak menyelamatkan saya?
Dengan kata lain, saya menolak Tuhan karena saya lahir dengan dosa asal dari Adam. Mengapa Tuhan menghukum saya kalau dosa asal ini membuat saya tidak mau datang kepadaNya? Nanti saya sambung.
----------
Nah, jikalau manusia berdosa tidak mampu dan tidak mau datang kepada Kristus oleh karena free willnya yang sudah dicemari dosa itu (dosa yang dibawa dari lahir yaitu dosa asal), apakah predestinasi Tuhan kepada manusia berdosa untuk binasa adalah sebuah keadilan?
Bukankah manusia menolak Kristus karena dia memang lahir seperti itu? Nah, pertanyaan ini mempunyai 2 aspek penting:
1. Apakah dosa asal yang dimiliki semua turunan Adam adalah adil adanya?
2. Apakah penghukuman Allah kepada manusia berdosa yang tidak datang kepada Kristus oleh karena dosa manusia itu juga adil adanya?
Sekarang saya jelaskan hal yang pertama dulu. Apakah dosa asal yang dimiliki semua manusia itu adil adanya? Bukankah ini semua disebabkan kesalahan Adam? Mengapa semua manusia harus ikut menanggung kesalahan Adam ini? Pada dasarnya ada 2 teori yang dipakai untuk menjelaskan tentang dosa pertama Adam dan
hubungannya dengan semua manusia yang lahir sesudahnya.
1. Yang pertama adalah teori realistik. Teori ini menyatakan semua manusia itu sesungguhnya turut hadir bersama2 dengan Adam (di dalam benih Adam) di peristiwa Taman Eden. Oleh sebab itu sewaktu
Adam jatuh ke dalam dosa, maka dosa ini juga turun kepada semua manusia yang turut berada dalam benihnya. Teori ini memakai penjelasan ayat Ibrani 7:9-10 yang menuliskan Lewi membayar perpuluhan kepada Melkisedek di dalam Abraham. Tentu saja yang membayar perpuluhan kepada Melkisedek adalah Abraham karena Lewi belum lahir saat itu. Nah kenyataannya ayat ini menyatakan Lewi yang ada dalam benih Abraham juga membayar perpuluhan kepada Melkisedek. Ada keberatan2 terhadap teori ini. Para teolog menyatakan sesungguhnya interpretasi yang benar terhadap Ibrani 7:9-10 ini bukanlah seperti di atas (saya tidak akan jelaskan apa interpretasi yang benar atas ayat ini karena hal itu tidak berhubungan dengan topik dosa asal ini). Keberatan lainnya dari teori ini adalah di sini dosa dilukiskan sebagai suatu materi (seperti gen manusia) yang bisa diturunkan dari bapa ke anak dan seterusnya. Jikalau dosa menjadi seperti materi, pertanyaannya adalah mengapakah hanya dosa pertama Adam saja yang turun kepada keturunan selanjutnya?
Mengapakah dosa2 Adam yang kedua, ketiga, dan seterusnya tidak ikut turun juga?
2. Penjelasan yang kedua adalah teori federal (perwakilan). Adam adalah wakil dari semua manusia. Arti nama Adam adalah manusia, sehingga dia telah menjadi representatif semua manusia yang akan lahir ke dunia. Sama seperti sebuah kepala negara yang merepresentasikan bangsanya, apa yang dilakukan oleh kepala
negara itu akan membawa imbas kepada semua orang yang menjadi bagian dari bangsa itu. Contohnya, sewaktu kaisar Jepang menyatakan menyerah kepada sekutu, maka semua bangsa Jepang secara otomatis juga ada dalam kondisi menyerah kepada sekutu. Nah menurut teori ini Adam yang jatuh ke dalam dosa, juga secara otomatis menjadikan semua manusia turut jatuh ke dalam dosa. Problem dari teori ini, di ilustrasi kepala negara itu, semua bangsa menyatakan persetujuannya bahwa kepala negara itu telah menjadi wakil dari mereka. Sedangkan kita, pernahkah kita menyetujui Adam sebagai wakil kita? Bukankah ini tidak adil? Bukankah seharusnya Tuhan memilih manusia yang lebih "bagus" kualitasnya yaitu yang tidak jatuh ke dalam dosa seperti yang dilakukan Adam? Bagaimana menjawab pertanyaan ini? Di dalam hal ini, sesungguhnya tidak ada satu manusia pun yang melebihi kualitas Adam. Ada sudah diciptakan tanpa cacat dan noda, dia ada dalam kesempurnaan sebagai manusia. Tidak ada lagi manusia lainnya yang bisa melebihi kesempurnaan seperti ini.
Saya pribadi menerima teori yang kedua. Saya menerima bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa bersama2 dengan Adam. Nah sekarang pertanyaan berikutnya, adilkah bila Tuhan hanya mempredestinasikan menyelamatkan sebagian manusia saja dan menghukum yang lainnya? Padahal semua manusia itu sama2 berdosa. Nanti saya lanjutkan.
-------------
Apakah Tuhan itu berlaku adil bila Dia mempredestinasikan hanya sebagian manusia untuk selamat dan membiarkan sisanya (mayoritasnya) untuk binasa kekal? Bukankah semua manusia itu sama2 berdosa, yaitu terlahir dengan dosa asal? Lalu di manakah keadilan Tuhan dalam hal ini?
Kita berasumsi supaya adil Tuhan harus memperlakukan semua manusia sama rasa sama. Padahal, aLkitab dengan gamblang
menulis Tuhan tidak memperlakukan semua manusia sama rasa sama rata. Tuhan tidak memperlakukan Esau dama dengan Dia memperlakukan Yakub. Tuhan tidak memperlakukan Musa sama dengan cara Dia memperlakukan Firaun. Tuhan tidak memperlakukan Yudas sama dengan Dia memperlakukan Petrus. Tuhan tidak memperlakukan Paulus sama dengan Dia memperlakukan orang Farisi lainnya. Apakah ini sebuah ketidakadilan dari Tuhan? Tentu bukan. Lalu apa?
RC Sproul di buku eksposisinya atas kitab Roma memberikan pengajaran tentang konsep keadilan Tuhan. Dia memberikan penjelasan dengan menggunakan kata2 berikut: justice, injustice dan non-justice. Tetapi sebelumnya dia mengilustrasikan konsep ini dengan menjelaskan tentang makna theisme.
Tentunya kita mengetahui apa yang disebut sebagai theisme. Theisme adalah sebuah konsep yang menyatakan kepercayaan akan keberadaan Tuhan, yang bisa saja percaya pada satu Tuhan (monotheisme) atau banyak Tuhan (multitheisme). Nah, lawan dari kata theisme adalah non-theisme yaitu atheisme yang menyatakan tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Dengan ilustrasi seperti ini, RC Sproul menjelaskan tentang konsep justice (adil). Kita tentu mengerti yang disebut sebagai justice (adil). Apakah yang menjadi lawan dari kata justice (adil) ini? Apakah injustice (tidak adil)? Jelas bukan!
Seperti juga lawan dari kata theisme adalah atheisme (atau non theisme). Maka lawan dari justice bukanlah injustice melainkan non-justice. Anda tahu apa bedanya antara injustice dengan non-justice? Injustice adalah sebuah dosa, injustice adalah hal yang buruk. Bila seorang hakim berlaku injustice di pengadilan maka dia itu adalah hakim yang korup. Lalu bagaimana dengan yang disebut mercy
(belas kasihan) itu? Apakah mercy itu masuk ke kategori justice (adil)? Jelas tidak! Mercy bukanlah justice, mercy juga bukan injustice! Mercy adalah termasuk dalam kategori non-justice. Jadi dalam hal ini, ada 2 elemen yang masuk ke dalam kategori non-justice yaitu injustice (ketidakadilan) dan mercy (belas kasihan).
Lalu apakah Tuhan berlaku injustice bila dia mempredestinasikan sebagian manusia selamat dan membiarkan sisanya binasa? Tidak! Tuhan tidak berlaku injustice (tidak adil). Tuhan hanya berlaku non-justice, dalam hal ini Tuhan memberikan belas kasihannya (mercy) kepada orang2 yang dia selamatkan. Lalu bagaimana dengan orang2 yang tidak dia selamatkan? Tuhan sudah memberlakukan yang disebut sebagai justice kepada mereka. Ya, justice lah yang diterima oleh manusia2 yang tidak dipredestinasi selamat ini, manusia2 yang melakukan dosa atas keinginan dia sendiri, tanpa ada yang memaksa. Bukan itu saja, mereka pun menikmati keberdosaan mereka. Jadi di dalam predestinasi Tuhan, tidak ada satu manusia pun yang diperlakukan injustice (tidak adil) oleh Tuhan! Untuk manusia yang dipredestinasi selamat, mereka mendapatkan mercy (belas kasihan). Yang dibiarkan binasa, mereka mendapatkan justice (keadilan). Tidak ada satu orang yang mendapatkan injustice (ketidakadilan)!