Mimpi Pangeran Frederick
Oleh John Liem pada 18 Februari 2013 pukul 12:18
Sebelum pastur Martin Luther menggantungkan 95 thesisnya di gereja Wittenberg, ada seorang pastur bernama Jan Hus (John Huss) yang dihukum mati oleh gereja Vatikan di bulan Juli tahun 1415 oleh karena ide2 dan tindakan2 revolusionernya. Dikisahkan di detik2 terakhir sebelum Hus dibakar terjadi percakapan berikut ini.
Pembakar: “Sekarang sudah tiba saatnya untuk memasak angsa ini (Hus dalam bahasa Bohemia berarti angsa)”
Hus: “Benar. Tetapi akan datang seekor elang 100 tahun lagi dan dia tidak akan bisa kau apa2kan”.
Siapakah si elang itu?
Kita fast forward 100 tahun, tepatnya 31 Oktober 1517. Seorang pangeran Jerman yang bernama Frederick berbincang2 dengan saudaranya yang bernama John tentang mimpi anehnya semalam.
Frederick: "Saudaraku, aku harus ceritakan kepadamu mimpiku semalam dan artinya yang aku kepingin tahu. Mimpi itu sungguh berkesan di pikiranku, aku tak mungkin melupakannya, jikalau aku hidup 1000 tahun lagi. Karena aku bermimpi 3 kali dan setiap kali mengenai hal yang berkaitan."
John: "Apakah mimpimu itu indah atau buruk? "
Frederick: "Aku tidak tahu; Hanya Tuhan yang tahu."
John: "Tidak usah terlalu khawatir, silakan disharingkan ke saya."
Frederick: "Kemarin saat aku berbaring di ranjang dengan kondisi yang letih jasmani maupun jiwa, aku tertidur tidak lama setelah aku mengucapkan doa dan tertidur kira2 2.5 jam; lalu aku terbangun dan tetap bangun sampai tengah malam dengan banyak pikiran di benakku. Salah satunya, aku memikirkan bagaimana aku harus merayakan perayaan hari orang2 kudus. Lalu aku berdoa bagi jiwa2 yang ada di purgatori, dan memohon Tuhan memimpinku, para bawahanku dan rakyatku dalam kebenaran. Lalu aku tertidur lagi dan bermimpi Tuhan yang Maha Besar mengirimkan aku seorang paderi, seorang anak sejati dari Rasul Paulus. Segala orang2 suci menemaninya atas perintah Tuhan untuk bersaksi kepadaku menyatakan dia tidak datang untuk mencari gara2, tetapi apa yang dia lakukan adalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka memintaku agar memberikan kebaikan dengan mengizinkan paderi ini menulis sesuatu di depan pintu gereja dari kastil Wittenberg. Aku pun memberikan izin itu lewat bawahanku. Kemudian paderi itu menuliskan sesuatu dengan huruf besar2 sampai2 aku bisa melihat tulisannya di Schweitnitz. Pena yang digunakan paderi itu begitu besar sehingga ujungnya mencapai sejauh Roma dan menusuk kuping2 seekor singa yang nongkrong di sana dan menyebabkan mahkota tiga lapis di kepala Paus bergoyang. Semua kardinal dan pangeran2, berlari dengan sigap untuk mencegah mahkota itu jatuh. Engkau dan aku, saudaraku pun mencoba untuk membantu dan saya pun mengulurkan lenganku. Dan pada saat ini, aku terbangun dengan lenganku membuka dan, sungguh ajaib, aku marah sekali pada paderi itu yang tidak memegang penanya baik2. Lalu aku mengingat2kan diriku bahwa itu cuma mimpi.
Aku kembali lagi setengah tertidur dan memejamkan mataku lagi. Mimpi itu kembali. Singa itu, sangat terganggu sekali oleh pena itu, dan dia mengaum sekuat tenaga sampai2 orang2 di seluruh kota Roma dan negara2 kerajaan suci berlarian untuk mencari tahu apa yang terjadi. Lalu Paus meminta mereka semua untuk melawan paderi ini dan khususnya meminta kepadaku karena paderi ini tinggal di negaraku. Aku terbangun lagi lalu mengucapkan doa Bapa Kami dan memohon Tuhan untuk menjaga Paus, lalu aku kembali tertidur.
Lalu aku bermimpi semua pangeran2 kerajaan dan kita di antaranya berangkat ke Roma dan mengerahkan tenaga kita untuk mematahkan pena itu. Tetapi semakin keras kita mencoba, semakin kuat pula pena itu, sepertinya itu terbuat dari besi. Kita akhirnya menyerah dan aku lalu bertanya pada paderi itu (di mimpiku itu aku terkadang ada di Roma terkadang di Wittenberg) dari manakah dia mendapatkan pena itu, dan mengapa pena itu begitu kuat. Jawab dia “Pena ini adalah milik si Angsa Tua dari Bohemia itu, seratus tahun lalu. Aku mendapatkan pena ini dari salah satu guruku. Mengenai kekuatan pena ini, itu disebabkan kekuatan yang ada di intinya dan aku sendiri pun takjub juga. Lalu aku tiba2 mendengar suara keras – banyak pena2 baru yang keluar dari pena panjang si paderi ini. Dan aku pun ternbangun ketiga kalinya: ternyata sudah subuh.
John: "Kanselor, apakah pendapatmu dalam hal ini? Apakah kita akan memiliki Yusuf atau Daniel, yang dicerahkan oleh Tuhan! "
Frederick: "Tuanku tentunya tahu ungkapan peribahasa, bahwa mimpi2 gadis2 muda, orang2 berpendidikan dan bangsawan besar umumnya punya makna tersimpan. Makna dari mimpiku ini, tetapinya, tidak akan bisa kita ketahui sampai saat tertentu – sampai hal2 yang berhubungan dengannya itu benar terjadi. Oleh karenanya, kita serahkan kepada Tuhan saja.
John: "Saya setuju, Kanselor; tidak ada gunanya kita memikirkan hal ini berlanjut2 untuk mencari tahu artinya. Tuhanlah yang akan menentukan segalanya berdasarkan kebesarannya."
Frederick: "Semoga Tuhan melakukan hal itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan mimpi ini. Aku sudah memikirkan apa maknanya tapi akan ku simpan dalam hati. Waktulah yang akan membuktikan apakah aku orang yang bisa melihat masa depan"
Dan anda tahu di pagi hari, di tanggal yang sama pula, Luther sudah memaku 95 tesisnya di kastil Wittenberg. Dan Frederick inilah yang kemudian menjadi pelindung politik dari Luther untuk menghadapi amarah Paus. Dan reformasi pun tidak terbendung lagi. Luar biasa bukan?
Referensi:
http://www.reformation.org/frederick.html
Pembakar: “Sekarang sudah tiba saatnya untuk memasak angsa ini (Hus dalam bahasa Bohemia berarti angsa)”
Hus: “Benar. Tetapi akan datang seekor elang 100 tahun lagi dan dia tidak akan bisa kau apa2kan”.
Siapakah si elang itu?
Kita fast forward 100 tahun, tepatnya 31 Oktober 1517. Seorang pangeran Jerman yang bernama Frederick berbincang2 dengan saudaranya yang bernama John tentang mimpi anehnya semalam.
Frederick: "Saudaraku, aku harus ceritakan kepadamu mimpiku semalam dan artinya yang aku kepingin tahu. Mimpi itu sungguh berkesan di pikiranku, aku tak mungkin melupakannya, jikalau aku hidup 1000 tahun lagi. Karena aku bermimpi 3 kali dan setiap kali mengenai hal yang berkaitan."
John: "Apakah mimpimu itu indah atau buruk? "
Frederick: "Aku tidak tahu; Hanya Tuhan yang tahu."
John: "Tidak usah terlalu khawatir, silakan disharingkan ke saya."
Frederick: "Kemarin saat aku berbaring di ranjang dengan kondisi yang letih jasmani maupun jiwa, aku tertidur tidak lama setelah aku mengucapkan doa dan tertidur kira2 2.5 jam; lalu aku terbangun dan tetap bangun sampai tengah malam dengan banyak pikiran di benakku. Salah satunya, aku memikirkan bagaimana aku harus merayakan perayaan hari orang2 kudus. Lalu aku berdoa bagi jiwa2 yang ada di purgatori, dan memohon Tuhan memimpinku, para bawahanku dan rakyatku dalam kebenaran. Lalu aku tertidur lagi dan bermimpi Tuhan yang Maha Besar mengirimkan aku seorang paderi, seorang anak sejati dari Rasul Paulus. Segala orang2 suci menemaninya atas perintah Tuhan untuk bersaksi kepadaku menyatakan dia tidak datang untuk mencari gara2, tetapi apa yang dia lakukan adalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka memintaku agar memberikan kebaikan dengan mengizinkan paderi ini menulis sesuatu di depan pintu gereja dari kastil Wittenberg. Aku pun memberikan izin itu lewat bawahanku. Kemudian paderi itu menuliskan sesuatu dengan huruf besar2 sampai2 aku bisa melihat tulisannya di Schweitnitz. Pena yang digunakan paderi itu begitu besar sehingga ujungnya mencapai sejauh Roma dan menusuk kuping2 seekor singa yang nongkrong di sana dan menyebabkan mahkota tiga lapis di kepala Paus bergoyang. Semua kardinal dan pangeran2, berlari dengan sigap untuk mencegah mahkota itu jatuh. Engkau dan aku, saudaraku pun mencoba untuk membantu dan saya pun mengulurkan lenganku. Dan pada saat ini, aku terbangun dengan lenganku membuka dan, sungguh ajaib, aku marah sekali pada paderi itu yang tidak memegang penanya baik2. Lalu aku mengingat2kan diriku bahwa itu cuma mimpi.
Aku kembali lagi setengah tertidur dan memejamkan mataku lagi. Mimpi itu kembali. Singa itu, sangat terganggu sekali oleh pena itu, dan dia mengaum sekuat tenaga sampai2 orang2 di seluruh kota Roma dan negara2 kerajaan suci berlarian untuk mencari tahu apa yang terjadi. Lalu Paus meminta mereka semua untuk melawan paderi ini dan khususnya meminta kepadaku karena paderi ini tinggal di negaraku. Aku terbangun lagi lalu mengucapkan doa Bapa Kami dan memohon Tuhan untuk menjaga Paus, lalu aku kembali tertidur.
Lalu aku bermimpi semua pangeran2 kerajaan dan kita di antaranya berangkat ke Roma dan mengerahkan tenaga kita untuk mematahkan pena itu. Tetapi semakin keras kita mencoba, semakin kuat pula pena itu, sepertinya itu terbuat dari besi. Kita akhirnya menyerah dan aku lalu bertanya pada paderi itu (di mimpiku itu aku terkadang ada di Roma terkadang di Wittenberg) dari manakah dia mendapatkan pena itu, dan mengapa pena itu begitu kuat. Jawab dia “Pena ini adalah milik si Angsa Tua dari Bohemia itu, seratus tahun lalu. Aku mendapatkan pena ini dari salah satu guruku. Mengenai kekuatan pena ini, itu disebabkan kekuatan yang ada di intinya dan aku sendiri pun takjub juga. Lalu aku tiba2 mendengar suara keras – banyak pena2 baru yang keluar dari pena panjang si paderi ini. Dan aku pun ternbangun ketiga kalinya: ternyata sudah subuh.
John: "Kanselor, apakah pendapatmu dalam hal ini? Apakah kita akan memiliki Yusuf atau Daniel, yang dicerahkan oleh Tuhan! "
Frederick: "Tuanku tentunya tahu ungkapan peribahasa, bahwa mimpi2 gadis2 muda, orang2 berpendidikan dan bangsawan besar umumnya punya makna tersimpan. Makna dari mimpiku ini, tetapinya, tidak akan bisa kita ketahui sampai saat tertentu – sampai hal2 yang berhubungan dengannya itu benar terjadi. Oleh karenanya, kita serahkan kepada Tuhan saja.
John: "Saya setuju, Kanselor; tidak ada gunanya kita memikirkan hal ini berlanjut2 untuk mencari tahu artinya. Tuhanlah yang akan menentukan segalanya berdasarkan kebesarannya."
Frederick: "Semoga Tuhan melakukan hal itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan mimpi ini. Aku sudah memikirkan apa maknanya tapi akan ku simpan dalam hati. Waktulah yang akan membuktikan apakah aku orang yang bisa melihat masa depan"
Dan anda tahu di pagi hari, di tanggal yang sama pula, Luther sudah memaku 95 tesisnya di kastil Wittenberg. Dan Frederick inilah yang kemudian menjadi pelindung politik dari Luther untuk menghadapi amarah Paus. Dan reformasi pun tidak terbendung lagi. Luar biasa bukan?
Referensi:
http://www.reformation.org/frederick.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar