Jumat, 10 Januari 2014

Eksegese

Apakah kitab Roma dan Yakobus bertentangan perihal pembenaran oleh iman?

Oleh John Liem pada 16 Mei 2011 pukul 21:59
Tidak lama setelah Martin Luther mempromosikan konsep pembenaran (justifikasi) oleh iman saja (sola fide) dengan acuan kitab Paulus kepada jemaat Roma, kaum gereja katolik melakukan serangan balik dengan meminjam kitab Yakobus yang menulis manusia bukan dibenarkan oleh iman saja tetapi juga oleh perbuatan. Siapakah yang benar dalam hal ini? Apakah kedua kitab ini mengajarkan hal yang bertentangan? Kesulitan lainnya adalah baik Paulus maupun Yakobus sama2 mengutip kisah Abraham sebagai ilustrasi.

Roma 4:2 
Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.
4:3 
Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
4:4 
Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.
4:5 
Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
4:6 
Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:
4:7 
"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;
4:8 
berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya."
4:9 
Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.
4:10 
Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.
4:11 
Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,

Yakobus 2:20
Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
2:21 
Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 
Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 
Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."
2:24 
Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Benarkah kitab Roma mengajarkan hal yang bertentangan  dengan kitab Yakobus? TIDAK! Sesungguhnya kedua kitab itu tengah menjelaskan konsep pembenaran (justifikasi) oleh iman dengan perspektif yang berbeda. Kedua kitab ini saling melengkapi bukannya bertentangan.
Sewaktu Paulus menulis ayat Roma ini, dia sedang membahas bagaimanakah caranya manusia bisa dibenarkan oleh Tuhan. Paulus lalu menggunakan kisah Abraham yang beriman kepada Tuhan sebagai ilustrasi. Konteksnya adalah saat itu Abraham dipanggil untuk keluar dari tanah leluhurnya di Mesopotamia karena Allah akan menjanjikan keturunannya sebagai bangsa yang besar. Tuhan berjanji untuk memberikan keturunan berjumlah seperti bintang di langit, pasir di pantai. Lalu apakah yang bisa dilakukan oleh Abraham? Paulus mengingatkan yang bisa dilakukan Abraham hanyalah BERIMAN saja atas janji Tuhan itu. Dan modal Abraham yang berupa iman saja dipakai Paulus untuk menjelaskan konsep justifikasi (pembenaran) oleh iman saja.
Sedangkan Yakobus sewaktu menulis ayatnya, dia tengah membahas problem iman yang seperti apakah yang menyelamatkan itu? Semua orang kristen bisa saja mengklaim dia punya iman, tetapi apakah klaim itu menyelamatkan? Apakah indikator dari sebuah iman yang menyelamatkan? Dengan kata lain iman seperti apakah yang menyelelamatkan? Maka Yakobus pun memakai ilustrasi Abraham yang mempersembahkan anaknya Ishak. Yakobus menjelaskan bahwa iman yang dimiliki oleh Abraham adalah iman yang hidup, iman yang sejati. Buktinya Abraham membuktikan imannya dengan perbuatannya yang bersedia mengorbankan anaknya. Iman seperti inilah yang menyelamatkan yaitu iman yang disertai perbuatan.
John Calvin menulis seperti ini "Justification is by faith alone but faith never be alone". Dengan kata lain, di saat kamu beriman kepada Kristus, saat itulah pembenaran dari Tuhan akan dia berikan. Masalahnya adalah dari mana kau tahu imanmu itu iman yang benar2? Jikalau imanmu disertai perbuatan, itulah iman yang benar2 mendapatkan pembenaran dari Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar