Baptisan Roh Kudus dan Karunia Berbahasa Roh
Oleh John Liem pada 31 Desember 2011 pukul 17:48
Benarkah baptisan Roh Kudus harus disertai dengan karunia berbahasa Roh? Bukankah Kitab Para Rasul menceritakan karunia berbahasa Roh yang menyertai Baptisan Roh Kudus? Bukankah murid2 Yesus berbahasa Roh di hari Pentakosta seperti yang tertulis di Kisah 2? Bukankah Kornelius berbahasa Roh sewaktu dia menerima baptisan Roh di Kisah 10? Bukankah orang2 Samaria dan murid2 Yohanes Pembaptis juga demikian di Kisah 8 dan Kisah 19? Bukankah hal ini membuktikan karunia berbahasa Roh adalah indikator yang menyertai baptisan Roh Kudus?
Untuk menjawab pertanyaan2 di atas, terlebih dahulu kita harus mengerti konteks yang dituliskan Lukas di Kisah Para Rasul? Kisah Para Rasul dimulai dengan janji Yesus yang akan memberikan baptisan Roh Kudus sesudah Dia terangkat ke surga. Kemudian Kisah Para Rasul dilanjutkan dengan turunNya Roh Kudus kepada murid Yesus, juga kotbah Petrus dan yang lainnya yang membawa pertobatan masal di Kisah pasal 2. Lalu disambung dengan terbentuknya komunitas2 kristen yang menjadi anggota gereja Kristus yang mula2 yaitu `gereja Yahudi’.
Selanjutnya di Kisah 10, 19, 8 terjadi pergeseran tema. Dalam hal ini Lukas menuliskan tentang siapa lagi yang menjadi anggota gereja Kristus. Di Kisah 10, 19, 8 Lukas menceritakan bahwa gereja Kristus BUKANLAH gereja yang diisi oleh kaum Yahudi saja. Gereja Kristus juga diisi oleh orang2 non-Yahudi. Kisah 10 menceritakan tentang Kornelius seorang non-Yahudi yang menjadi anggota gereja Kristus. Kisah 8 menulis tentang orang2 yang setengah Yahudi yaitu orang2 Samaria (orang2 Yahudi menggolongkan orang2 Samaria sebagai kaum buangan). Walaupun orang2 Samaria memiliki hukum Taurat, mereka tidak pernah menerima Yudaisme sebagai agama mereka. Mereka juga menolak otoritas dari kaum Yahudi. Lalu Kisah 19 yang menulis tentang murid2 Yohanes Pembaptis yang tidak pernah masuk ke dalam kelompok murid Yesus dan tidak mendapatkan pengajaran yang jelas tentang Yesus Kristus.
Sebenarnya yang mau disampaikan oleh Lukas di dalam peristiwa berbahasa Roh yang menyertai baptisan Roh Kudus di pasal2 di atas adalah sesungguhnya Allah tidak membedakan orang2 yang Dia selamatkan. Allah juga membentuk satu kesatuan gereja Kristus yang terdiri dari orang2 dari berbagai latar belakang. Dan hal ini tentunya bukan perkara yang mudah.
Di kisah Kornelius, Allah mengejutkan Petrus dan juga para murid2 Yesus lainnya tentang karunia berbahasa Roh yang menyertai Kornelius. Petrus mengatakan bila Allah tidak membeda2kan antara kaum Yahudi dan non-Yahudi, maka anggota2 gereja Yahudi pun juga tidak boleh melakukan diskriminasi. Inilah pelajaran yang diberikan Allah kepada gereja Yahudi.
Di kisah orang2 Samaria, diceritakan Filipus terlebih dahulu berkotbah kepada mereka. Lalu gereja Yahudi mengirimkan Petrus dan Yohanes untuk menumpangkan tangan kepada kaum Samaria itu untuk mendapatkan baptisan Roh Kudus. Hal ini mengajarkan, orang2 Samaria haruslah berkiblat kepada gereja Yahudi dalam hal spiritual. Pelajaran untuk gereja Yahudi adalah mereka jangan lagi menganggap kaum Samaria yang menjadi anggota gereja Kristus ini sebagai kaum buangan. Sebagaimana gereja Yahudi diberikan karunia berbahasa Roh, kaum Samaria pun juga mendapatkannya.
Di kisah murid2 Yoh Pembaptis di Efesus, gereja Yahudi mengoreksi baptisan yang dimiliki oleh para murid Yoh Pembaptis. Para murid Yohanes ini juga harus dibaptis di dalam nama Yesus Kristus. Karunia berbahasa Roh yang dimiliki oleh para murid Yoh Pembaptis adalah indikator yang menyatukan mereka ke dalam gereja Kristus.
Nah dengan penjelasan di atas, pertanyaan penting yang harus dijawab sekarang adalah apakah fenomena berbahasa Roh yang menjadi indikasi baptisan Roh itu masih terjadi dan harus terjadi sampai sekarang? Jawabannya jelas TIDAK. Tahukah anda Kisah Para Rasul juga mencatat orang yang tidak mendapat karunia berbahasa Roh sesudah orang itu percaya kepada Kristus. Siapakah dia? Dia adalah sida2 dari Etiophia (Kisah 8:38). Sida2 itu adalah kaum non-Yahudi sama seperti Kornelius. Lalu mengapa sida2 itu tidak mendapat karunia berbahasa Roh seperti Kornelius? Apakah karena sida2 ini tidak mendapatkan baptisan Roh Kudus seperti Kornelius? Nah, perhatikan baik2, di sinilah kuncinya! Sida2 itu juga mendapatkan baptisan Roh Kudus walaupun dia tidak mendapatkan karunia berbahasa Roh. Apakah buktinya dia mengalami baptisan Roh Kudus? Di ayat 8:39 itu kita temukan ayat yang menulis sida2 Etiophia itu pulang dengan suka cita. Inilah bukti dari baptisan Roh Kudus yang sudah dia alami!
Dalam hal ini saya setuju dengan pendangan Martyn Lloyd Jones yang menyatakan:
“Tetapi bahayanya adalah memikirkan baptisan Roh Kudus itu hanya dari sisi karunia saja dan bukannya untuk sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu tanda, yang pada akhirnya akan membuktikan apakah kita ini sudah menerima baptisan Roh Kudus atau belum....Anda akan menemukan di perjanjian baru di mana orang2 yang dihampiri oleh Roh Kudus, orang2 yang dituruni Roh Kudus, atau orang2 yang menerima Roh Kudus seperti kristen2 Galatia dan yang lain2nya, orang2 itu mengalami pembaharuan di dalam kerohanian mereka. Tuhan Yesus menjadi begitu nyata bagi mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka alami sebelumnya....hasilnya adalah mereka menjadi begitu mencintai Kristus dengan hati mereka yang diterangi oleh Roh Kudus."
Untuk menjawab pertanyaan2 di atas, terlebih dahulu kita harus mengerti konteks yang dituliskan Lukas di Kisah Para Rasul? Kisah Para Rasul dimulai dengan janji Yesus yang akan memberikan baptisan Roh Kudus sesudah Dia terangkat ke surga. Kemudian Kisah Para Rasul dilanjutkan dengan turunNya Roh Kudus kepada murid Yesus, juga kotbah Petrus dan yang lainnya yang membawa pertobatan masal di Kisah pasal 2. Lalu disambung dengan terbentuknya komunitas2 kristen yang menjadi anggota gereja Kristus yang mula2 yaitu `gereja Yahudi’.
Selanjutnya di Kisah 10, 19, 8 terjadi pergeseran tema. Dalam hal ini Lukas menuliskan tentang siapa lagi yang menjadi anggota gereja Kristus. Di Kisah 10, 19, 8 Lukas menceritakan bahwa gereja Kristus BUKANLAH gereja yang diisi oleh kaum Yahudi saja. Gereja Kristus juga diisi oleh orang2 non-Yahudi. Kisah 10 menceritakan tentang Kornelius seorang non-Yahudi yang menjadi anggota gereja Kristus. Kisah 8 menulis tentang orang2 yang setengah Yahudi yaitu orang2 Samaria (orang2 Yahudi menggolongkan orang2 Samaria sebagai kaum buangan). Walaupun orang2 Samaria memiliki hukum Taurat, mereka tidak pernah menerima Yudaisme sebagai agama mereka. Mereka juga menolak otoritas dari kaum Yahudi. Lalu Kisah 19 yang menulis tentang murid2 Yohanes Pembaptis yang tidak pernah masuk ke dalam kelompok murid Yesus dan tidak mendapatkan pengajaran yang jelas tentang Yesus Kristus.
Sebenarnya yang mau disampaikan oleh Lukas di dalam peristiwa berbahasa Roh yang menyertai baptisan Roh Kudus di pasal2 di atas adalah sesungguhnya Allah tidak membedakan orang2 yang Dia selamatkan. Allah juga membentuk satu kesatuan gereja Kristus yang terdiri dari orang2 dari berbagai latar belakang. Dan hal ini tentunya bukan perkara yang mudah.
Di kisah Kornelius, Allah mengejutkan Petrus dan juga para murid2 Yesus lainnya tentang karunia berbahasa Roh yang menyertai Kornelius. Petrus mengatakan bila Allah tidak membeda2kan antara kaum Yahudi dan non-Yahudi, maka anggota2 gereja Yahudi pun juga tidak boleh melakukan diskriminasi. Inilah pelajaran yang diberikan Allah kepada gereja Yahudi.
Di kisah orang2 Samaria, diceritakan Filipus terlebih dahulu berkotbah kepada mereka. Lalu gereja Yahudi mengirimkan Petrus dan Yohanes untuk menumpangkan tangan kepada kaum Samaria itu untuk mendapatkan baptisan Roh Kudus. Hal ini mengajarkan, orang2 Samaria haruslah berkiblat kepada gereja Yahudi dalam hal spiritual. Pelajaran untuk gereja Yahudi adalah mereka jangan lagi menganggap kaum Samaria yang menjadi anggota gereja Kristus ini sebagai kaum buangan. Sebagaimana gereja Yahudi diberikan karunia berbahasa Roh, kaum Samaria pun juga mendapatkannya.
Di kisah murid2 Yoh Pembaptis di Efesus, gereja Yahudi mengoreksi baptisan yang dimiliki oleh para murid Yoh Pembaptis. Para murid Yohanes ini juga harus dibaptis di dalam nama Yesus Kristus. Karunia berbahasa Roh yang dimiliki oleh para murid Yoh Pembaptis adalah indikator yang menyatukan mereka ke dalam gereja Kristus.
Nah dengan penjelasan di atas, pertanyaan penting yang harus dijawab sekarang adalah apakah fenomena berbahasa Roh yang menjadi indikasi baptisan Roh itu masih terjadi dan harus terjadi sampai sekarang? Jawabannya jelas TIDAK. Tahukah anda Kisah Para Rasul juga mencatat orang yang tidak mendapat karunia berbahasa Roh sesudah orang itu percaya kepada Kristus. Siapakah dia? Dia adalah sida2 dari Etiophia (Kisah 8:38). Sida2 itu adalah kaum non-Yahudi sama seperti Kornelius. Lalu mengapa sida2 itu tidak mendapat karunia berbahasa Roh seperti Kornelius? Apakah karena sida2 ini tidak mendapatkan baptisan Roh Kudus seperti Kornelius? Nah, perhatikan baik2, di sinilah kuncinya! Sida2 itu juga mendapatkan baptisan Roh Kudus walaupun dia tidak mendapatkan karunia berbahasa Roh. Apakah buktinya dia mengalami baptisan Roh Kudus? Di ayat 8:39 itu kita temukan ayat yang menulis sida2 Etiophia itu pulang dengan suka cita. Inilah bukti dari baptisan Roh Kudus yang sudah dia alami!
Dalam hal ini saya setuju dengan pendangan Martyn Lloyd Jones yang menyatakan:
“Tetapi bahayanya adalah memikirkan baptisan Roh Kudus itu hanya dari sisi karunia saja dan bukannya untuk sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu tanda, yang pada akhirnya akan membuktikan apakah kita ini sudah menerima baptisan Roh Kudus atau belum....Anda akan menemukan di perjanjian baru di mana orang2 yang dihampiri oleh Roh Kudus, orang2 yang dituruni Roh Kudus, atau orang2 yang menerima Roh Kudus seperti kristen2 Galatia dan yang lain2nya, orang2 itu mengalami pembaharuan di dalam kerohanian mereka. Tuhan Yesus menjadi begitu nyata bagi mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka alami sebelumnya....hasilnya adalah mereka menjadi begitu mencintai Kristus dengan hati mereka yang diterangi oleh Roh Kudus."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar